4 Cara Menghitung Nilai Residu dan Contoh Soal 2024

Uinsuka.ac.id – Aset yang digunakan perusahaan pasti mengalami penyusutan atau penurunan nilai. Oleh karena itu, penting mengetahui cara menghitung nilai residu untuk mengetahui apakah aktiva tersebut masih memiliki manfaat.

Apabila aset mengalami penyusutan dan tidak memiliki manfaat, perusahaan akan menghentikan penggunaan aktiva tersebut. Perhitungan nilai residu dilakukan setiap satu tahun sekali dan perubahan dicatat pada penutupan buku akuntansi.

Tidak hanya perusahaan, kamu membutuhkan sesuatu yang bernilai, seperti mesin atau alat produksi lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam bisnis yang sedang dijalankan.

Cara Menghitung Nilai Residu Menggunakan Beberapa Metode

Untuk menghitung nilai residu, terdapat empat metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode penyusutan garis lurus

Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan garis lurus:

Biaya penyusutan = (Harga perolehan aset – Nilai residu) ÷ Umur ekonomis

Berikut ini contoh menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan garis lurus:

Tanggal 23 September 2018, agensi Jasa Travel Umroh dan Haji membeli mobil seharga Rp150.000.000. Aset tersebut memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan biaya penyusutan kurang lebih Rp24.000.000 per tahun.

Bagaimana cara menghitung nilai residu metode garis lurus pada contoh kasus tersebut?

Penyelesaian:

Biaya penyusutan = (Harga perolehan aset – Nilai residu) ÷ Umur ekonomis

Rp24.000.000 = (Rp150.000.000 – Nilai residu) ÷ 5 tahun
Rp24.000.000 × 5 tahun = (Rp150.000.000 – Nilai residu)
Rp120.000.000 = (Rp150.000.000 – Nilai residu)
Nilai residu = Rp150.000.000 – Rp120.000.000
Nilai residu = Rp30.000.000

Baca Juga:  10 oz Berapa mL? Cara Hitung dan Contoh Soalnya

Jadi, nilai residu yang didapat oleh agensi Jasa Travel dan Umroh diperkirakan sekitar Rp30.000.0000.

2. Metode penyusutan jumlah angka tahun

Untuk menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan jumlah angka tahun, kamu dapat menerapkan rumus berikut ini:

Biaya Penyusutan = (Sisa Usia Penggunaan ÷ Jumlah Angka Tahun × Harga Perolehan) – Nilai Residu

Berikut contoh menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan jumlah angka tahun:

Tanggal 23 September 2018, industri konveksi membeli mesin jahit seharga Rp200.000.000. Aset tersebut memiliki masa manfaat ekonomis selama 10 tahun dan biaya penyusutan adalah Rp16.000.000 per tahun.

Mesin tersebut sudah digunakan selama 2 tahun, jadi sisa usia penggunaan adalah 8 tahun. Bagaimana cara menghitung nilai residu peralatan jahit yang dimiliki oleh industri konveksi tersebut?

Penyelesaian:

Langkah 1: Menghitung jumlah angka tahun

Jumlah angka tahun = 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55

Langkah 2: Menghitung nilai residu

Biaya Penyusutan = (Sisa Usia Penggunaan ÷ Jumlah Angka Tahun × Harga Perolehan) – Nilai residu
Rp16.000.000 = (8 ÷ 55 × Rp200.000.000) – Nilai residu
Nilai residu = (8 ÷ 55 × Rp200.000.000) – Rp16.000.000
Nilai residu = Rp29.090.909,1 – Rp16.000.000
Nilai residu = Rp13.090.909,1

Jadi, nilai residu mesin jahit industri konveksi tersebut adalah Rp13.090.909,1.

3. Metode penyusutan satuan jam kerja

Rumus menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan satuan jam kerja:

Biaya penyusutan per jam = (Harga Beli atau Perolehan Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Jam Kerja selama Umur Ekonomis

Baca Juga:  20 Meter Berapa Cm? Cara Menghitung dan Jawabannya

Contoh menghitung nilai residu menggunakan metode penyusutan satuan jam kerja:

Contoh 1

Agensi penyedia jasa desain grafis membeli laptop dengan harga perolehan Rp100.000.000,00. Aset tersebut memiliki masa manfaat ekonomis selama 10 tahun, dan diperkirakan dapat bekerja selama 43.800 jam.

Biaya penyusutannya diperkirakan Rp1.000 per jam. Bagaimana cara menghitung nilai residu laptop tersebut?

Penyelesaian:

Biaya penyusutan per jam = (Perolehan Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Jam Kerja selama Umur Ekonomis

Rp2.000 = (Rp100.000.000 – Nilai Residu) ÷ 43.800 jam
Rp2.000 × 43.800 jam = Rp100.000.000 – Nilai Residu
Rp87.600.000 = Rp100.000.000 – Nilai Residu
Nilai residu = Rp100.000.000 – Rp87.600.000
Nilai residu = Rp12.400.000

Jadi, nilai residu laptop tersebut adalah Rp12.400.000.

Contoh 2

Data yang diperoleh pada suatu perusahaan:

  • Harga perolehan mesin = Rp100.000.000
  • Biaya penyusutan per jam = Rp9.000
  • Umur ekonomis mesin = 10 tahun
  • Jumlah jam kerja selama umur ekonomis = 18.250 jam

Bagaimana cara menentukan nilai residu dari data tersebut?

Penyelesaian:

Biaya penyusutan per jam = (Perolehan Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Jam Kerja selama Umur Ekonomis

Rp9.000 = (Rp100.000.000 – Nilai residu) ÷ 1.825 jam
Rp9.000 × 1.825 jam = Rp100.000.000 – Nilai residu
Rp16.425.000 = Rp100.000.000 – Nilai residu
Nilai residu = Rp100.000.000 – Rp16.425.000
Nilai residu = Rp83.575.000

Jadi, nilai residu mesin adalah Rp83.575.000.

4. Metode hasil produksi

Rumus menghitung nilai residu menggunakan metode hasil produksi:

Biaya Penyusutan per Unit = (Harga Beli Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Unit yang Diproduksi

Berikut contoh menghitung nilai residu menggunakan metode hasil produksi:

Contoh 1

Sebuah perusahaan membeli sebuah mesin produksi dengan harga perolehan Rp200.000.000,00. Mesin tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 10.000 produk. Biaya penyusutan per unit adalah Rp15.000. Bagaimana cara hitung nilai residu mesin tersebut?

Baca Juga:  80 cm Berapa Meter? Cara Hitung Konversi Cm ke M

Penyelesaian:

Biaya Penyusutan per Unit = (Harga Beli Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Unit yang Diproduksi

Rp15.000 = (Rp200.000.000 – Nilai Residu) ÷ 10.000 produk
Rp15.000 × 10.000 produk = Rp200.000.000 – Nilai Residu
Rp150.000.000 = Rp200.000.000 – Nilai Residu
Nilai residu = Rp200.000.000 – Rp150.000.000
Nilai residu = Rp50.000.000

Jadi, nilai residu mesin tersebut adalah Rp50.000.000.

Contoh 2

Data dari suatu perusahaan:

  • Harga perolehan mesin = Rp150.000.000
  • Biaya penyusutan per unit = Rp10.000
  • Umur ekonomis mesin = 10 tahun
  • Kapasitas produksi mesin = 10.000 unit

Bagaimana cara mencari nilai residu dari data tersebut?

Penyelesaian:

Biaya Penyusutan per Unit = (Harga Beli Aset – Nilai Residu) ÷ Jumlah Unit yang Diproduksi

Rp10.000 = (Rp150.000.000 – Nilai Residu) ÷ 10.000 produk
Rp10.000 × 10.000 produk = Rp150.000.000 – Nilai Residu
Rp100.000.000 = Rp150.000.000 – Nilai Residu
Nilai residu = Rp150.000.000 – Rp100.000.000
Nilai residu = Rp50.000.000

Jadi, nilai residu mesin adalah Rp50.000.000.

Selain memahami cara menghitung nilai residu, kamu juga perlu memperhatikan beberapa faktor, seperti kondisi aktiva tetap, nilai pasar aktiva tetap, dan kondisi ekonomi.

Nilai residu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perhitungan penyusutan menjadi tidak akurat. Sebaliknya, nilai residu yang terlalu rendah dapat menyebabkan beban penyusutan menjadi terlalu besar.

Baca Juga: